Tampilkan postingan dengan label Sos-BuD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sos-BuD. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 02, 2008

Hardiknas Semarang: Malah dapat Merah

Semarang-Menyambut Hardiknas, elemen mahasiswa di Semarang memberikan Rapor Merah kepada pendidikan nasional. Salah urus anggaran pendidikan dituduh sebagai biang kerok.

Poster bertuliskan “Realokasi 20% Anggaran” diusung oleh sekitar 40 orang mahasiswa dari BEM UNDIP pagi tadi (02/05/08) di Bundaran Air Mancur Semarang. Koordinator lapangan, Apung Widadi, membacakan tuntutan BEM yaitu realisasi pendidikan murah dan berkualitas, pemerataan akses pendidikan, dan penghapusan UAN, termasuk Realokasi 20% anggaran. Dalam kesempatan itu pula, ia kemudian memberikan “rapor” kepada pendidikan nasional.

Isi rapor itu memberikan nilai merah kepada hampir seluruh aspek. Sistem pendidikan dan Infrastruktur pendidikan menurut mereka adalah yang paling buruk dan patut diberikan nilai E. D untuk Standar dan Akreditasi Pendidikan dan cukup nilai C untuk Tenaga Pendidik.

Mahasiswa menyoroti salah urus anggaran pendidikan sebagai penyebab hal itu. Pasal 31 ayat (4) UUD Negara RI Tahun 1945 menyebutkan dengan jelas alokasi 20% untuk dana pendidikan. Namun keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang memasukkan nilai 20% termasuk gaji para pendidik malah membebani. Hal itu terlihat dalam rincian: biaya kesejahteraan tenaga pendidik (80,47%); pengadaan sarana pendidikan (7,46%); biaya pembinaan profesional (4,32%); biaya pengelolaan lembaga pendidikan (3,91%); pengadaan alat-alat pelajaran (2,55%); biaya pemeliharaan pendidikan (1,05%); dan pembinaan peserta didik (0,24%).

Pola pendidikan menggunakan Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan disebut tidak sejalan dengan visi pendidikan Indonesia yang ingin mewujudkan pemerataan pendidikan dikarenakan adanya penambahan mata pelajaran pada UN hanya akan menambah beban biaya negara. Penyelenggaraan UN dikhawatirkan hanya sebuah proyek besar untuk turut menghabiskan anggaran pendidikan.

Tuntutan serupa dan senada juga datang dari elemen unjuk rasa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Semarang Raya dan LMND yang turut bergabung tidak lama kemudian. Selain itu mereka juga sama-sama merasakan mahalnya biaya pendidikan saat ini.

Selasa, April 29, 2008

Hukum Adat Vs Hukum Nasional

Denpasar-Kantor DPRD Propinsi Bali kali ini didatangi puluhan warga Desa Adat Munggu yang menuntut DPRD untuk ikut menyelesaikan sengketa adat antara Dewa Made Purwajati dengan perangkat desa (Ketut Kormi, Putu Jenar dan Dewa).

Sengketa yang berawal dari masalah warisan Dewa Made Purwajati yang dikenai sanksi oleh perangkat desa untuk membayar denda selama sebulan namun sanksi tersebut tidak dilaksanakan oleh yang bersangkutan. Sebaliknya yang bersangkutan kemudian melaporkan perangkat desa diantaranya Ketut Kormi, Putu Jenar dan Dewa teguh ke polisi dengan tuduhan melanggar ketertiban umum sehingga dikenai pasal 335 KUHP. Setelah diproses dan sampai kepada kejaksaan tinggi dimana berkas-berkasnya sudah diselesaikan oleh pihak kejaksaan (P-21).
"Berkas-berkasnya sudah rampung, sudah p-21, mohon maaf kami tidak bisa membantu" ungkap jaksa Neutroni ketika menerima para pengujuk rasa di kejaksaan tinggi Denpasar.

Aksi pun bergerak menuju kantor DPRD Propinsi bali. Di sana warga Desa Adat Munggu diterima oleh koordinator komisi IV DPRD Propinsi Bali I Gusti Ketut Adhi Putra S.H,. Di dalam pertemuan antara komisi iv dengan warga adat desa Munggu , juru bicara desa I.B. Raywidyadnya menyampaikan tuntutan para warga yang meminta DPRD untuk memberikan batasan yang jelas antara hukum adat dan hukum positif/nasional.
"Jangan dicampuradukkan antara hukum adat dengan hukum postif yang berlaku di Negara Kesatuan Repulik Indonesia" ungkap Raywidyadnya disela-sela pertemuan.

Warga meminta DPRD untuk berkordinasi dengan kejaksaan tinggi tetapi bukan meminta DPRD untuk menghentikan penyidikkan.

Senin, April 28, 2008

Pra Kondisi May Day

Tanggal 1 Mei atau May Day sebagai Hari Buruh Sedunia akan dimanfaatkan benar oleh berbagai pihak terutama tentunya kalangan buruh. Untuk itu, beberapa kegiatan pra kondisi dilakukan kelompok buruh di Jawa Tengah.

Di Semarang, pukul 11.00 WIB pagi tadi (28/04/08), berlangsung unjuk rasa gabungan yang bertema “Solidaritas Rakyat Untuk Kesejahteraan Buruh”. Para pengunjuk rasa yang berjumlah sekitar 25 orang itu menuntut penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing sebagai dampak pengesahan UU No. 13/2003. Hal itu, menurut pengunjuk rasa tidak adil bagi buruh.

“Pada sistem kerja kontrak, kaum buruh tidak memiliki masa depan karena setiap saat bisa kehilangan pekerjaan tanpa ada dana pesangon. Sistem kerja kontrak juga dengan sangat mudah membuang kaum buruh setelah para pengusaha menghisap seluruh kemampuan, tenaga dan usia kaum buruh. Inti dalam kerja kontrak adalah Hisap dan Buang” orasi dari John Ari, pimpinan aksi.

Seperti yang dilaporkan PR sebelumnya (25/04/08) aksi ini merupakan prakarsa Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia yang merangkul ormas-ormas dan organisasi mahasiswa lain seperti PMKRI, PMII, HMI-MPO, LMND, FNPBI, YAWAS, SRMI, PPRM, SMI, dan GRI. John Ari kembali mengakui bahwa aksi gabungan ini bertujuan untuk mengabarkan kepada masyarakat tentang peringatan hari buruh dan menjaga tujuan sebenarnya.

“Sudah cukup kita merenung dan menggerutu, sekarang saatnya kita melawan. 1 Mei adalah hari perlawanan seluruh kekuatan buruh” lanjut John. John dan elemen pengunjuk rasa yang lain mengkhawatirkan ada pemanfaatan hari Buruh Sedunia dengan tujuan lain, dimana di Jateng saat ini sedang dalam tahapan pemilihan gubernur (Pilgub).

Dalam aksi tersebut, selain orasi, juga dilakukan pembakaran keranda yang bertuliskan rezim pemerintahan saat ini adalah antek kapitalis di Bundaran Air Mancur Semarang. Kemudian berakhir di halaman DPRD Jateng tanpa ditemui perwakilan DPRD Jateng.

Pekalongan

Di Pekalongan juga berlangsung diskusi dengan tujuan yang hampir sama. DPC Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Pekalongan bekerja sama dengan Harian Radar Pekalongan dan Kampus Politeknik Pusmanu Pekalongan menggelar Dialog Perburuhan dengan tema “Menimbang Nasib Buruh Pasca Reformasi” di Aula Kampus Politeknik Pusmanu, Jl. Jend. Sudirman No. 29, Kota Pekalongan.

Bowo Laksono - Ketua DPC SPN Kota Pekalongan - juga mengakui dialog perburuhan yang dilaksanakakan merupakan rangkaian agenda peringatan May Day 2008. Ia mengharapakan peringatan May Day tidak menjadi momok yang menakutkan bagi para pengusaha, inti May Day bukan selalu mengadakan aksi besar-besaran dalam memperingatinya. “Peringatan itu juga merupakan peringatan bagi buruh harus terus berkembang, karenanya kaum buruh harus terus meningkatkan SDM dan kinerjanya” jelasnya.

Dalam dialog itu juga disampaikan materi dari perwakilan media massa oleh General Manager Radar Pekalongan Ade Asep Syarifuddin. Pada intinya Asep menyampaikan, akan lebih baik jika ada jalinan komunikasi antara media massa dengan kelompok buruh, sehingga media akan memahami arah gerakan buruh. Tidak diragukan bahwa media massa sangat konsen terhadap persoalan-persoalan buruh dan ketenagakerjaan. “Kita siap memback-up buruh sesuai dengan kapasitas yang kita miliki” kata Asep.

Direncanakan, rangkaian selanjutnya dalam kegiatan memperingati Hari Buruh tanggal 1 Mei (May Day) adalah “Doa Bersama” pada tanggal 1 Mei 2008 nanti di Kampus Politeknik Pusmanu. Kegiatan ini juga diselenggarakan DPC SPN Kota Pekalongan, bekerja sama dengan Politeknik Pusmanu dan Harian Radar Pekalongan. Susunan acara antara lain Doa Bersama, Orasi kebangsaan, Pentas Treatikal, Pembacaan Puisi, Musik Merdeka, Gelar Simtudurror, dan Pembacaan Sejarah May Day.

Sabtu, April 12, 2008

Diskusi Flu Burung di Semarang

SEMARANG (25/3/2008) berlangsung Diskusi dan Bedah buku Saatnya Mengubah Dunia (Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung) dengan pembicara Menteri Kesehatan RI, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) di Gedung pascasarjana Undip Peleburan Jl. Imam Bardjo Semarang.

Menteri Kesehatan RI, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menyampaikan setiap negara yang terkena Flu Burung harus menyerahkan spesimen virus secara berkala ke GISN (Global Influenza Surveillance Network) yang seolah-olah bagian dari WHO (World Health Organisation) virus yang diterima GISN ini kemudian diproses menjadi vaksin. Vaksin ini kemudian dipatenkan oleh perusahaan farmasi tertentu yang berada di negara maju (Amerika Serikat) untuk ditawarkan kepada negara-negara yang berkembang/miskin dengan harga yang sangat tinggi. Bangsa-bangsa berkembang termasuk Indonesia menuntut kesetaraan dalam hubungan antar bangsa dengan menghilangkan eksploitasi dari bangsa yang kuat ke bangsa yang lemah. Saat ini, banyak peraturan internasional yang terselubung misi-misi kemanusiaan sebenarnya mengandung perampasan hak bahkan penindasan dari bangsa yang maju ke dunia ketiga.

Rapat Koordinasi Program Raskin di Semarang

SEMARANG (9/4/2008) berlangsung Rapat Koordinasi Program Raskin Kurangi Beban Masyarakat Miskin dengan moderator Astuti (Staf Ahli Gubernur) dan pembicara Edison Ambarua SE Msi (Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri Binas Perdagangan Prov. Jateng), Ir. Bambang Rubiantoro (Staf Perum Bulog Divre Jateng) dan Ir. Samlawi (Staf Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan Prov. Jateng) di Ruang Rapat BIKK Prov. Jateng Gedung A Lantai 11, Jl. Pahlawan No. 9 Semarang.

Edison Ambarua SE Msi (Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perdagangan Prov. Jateng) menyatakan kebijakan impor beras sejak tahun 2004 dimaksudkan agar harga di tingkat petani membaik yang dilakukan dengan cara impor tidak dilakukan sebulan sebelum panen raya, selama panen raya dan dua bulan setelah panen raya. Izin impor beras khusus hanya diberikan apabila direkomendasikan oleh instansi teknis. Jumlah kebutuhan beras rata-rata untuk konsumsi masyarakat sebesar 92,87 kg/tahun (susenas 1999). Untuk Jawa Tengah rata-rata sebesar 256.786 ton/bulan. Pemberian beras raskin (subsidi pemerintah) merupakan upaya pemerintah di dalam membantu meringankan beban masyarakat/rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara itu, Ir. Bambang Rubiantoro (Perum Bulog Divre Jateng) tugas yang diamanatkan Inpres (No. 3 th 2007) kepada Perum BULOG adalah pelaksanaan pembelian gabah/beras oleh pemerintah secara nasional dan penyediaan beras bagi kepentingan penyaluran beras bagi kelompok masyarakat miskin. Tujuan Program Raskin ini adalah mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Miskin (RTM) di Jawa Tengah melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras dengan sasaran Program Raskin adalah berkurangnya beban pengeluaran 3.171.051 RTM di Jawa Tengah melalui pendistribusian beras bersubsidi sebanyak 15 kg/RTM/bulan selama 10 bulan dengan harga tebus Rp. 1.600,-kg netto di titik distribusi.

Seminar Nasional Rehabilitasi Pemukiman Pasca Gempa Bumi di Semarang

SEMARANG (9/4/2008) berlangsung Seminar Nasional Rehabilitasi Pemukiman Pasca Gempa Bumi dengan pembicara Dr. Ir Heinz Frick (Arsitektur Unika), Prof. Dr Tri Haryo Karyono (B2TE), Prof. Ir. Johan Silas (ITS Surabaya) di Ruang Theater Thomas Aquinas Universitas Unika Soegijapranata Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Duwur Semarang.

Dr. Ir Heinz Frick (Arsitektur Unika) menyatakan pembangunanberkelanjutan merupakan konstruksi bangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan masa kini tanpa merugikan generasi-generasi mendatang. Pengembangan sistem bangunan yang baru biasanya berangkat dari pembentukan dan penggunaan bahan bangunan. Dalam tradisi bangsa Indonesia bentuk dan bahan selalu mengalami tantangan tertentu yang menghalangi evolusi dalam pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karenanya, Indonesia kesulitan mencari identitas arsitektur Indonesia. Yang perlu dipertimbangkan sebenarnya adalah struktur baru untuk rumah sederhana yang memenuhi prasyarat sebagai pilihan grid/modul yang cocok, efisien, fleksibel, kuat (untuk dibuat bertingkat ataupun terhadap gempa). Sementara itu, Prof. Dr Tri Haryo Karyono (B2TE) menyatakan gempa di Indonesia saat ini sering menimbulkan berbagai bencana dan banyak korban. Gempa menjadi suatu persoalan tersendiri ketika gempa terjadi dengan kekuatan yang cukup besar apalagi sebagian rumah di Indonesia tidak dirancang untuk tahan gempa. Dalam menyelenggarakan aktivitas apapun di rumah, manusia memerlukan kondisi nyaman Kondisi nyaman ini terkait dengan aspek kejiwaan. Hunian pasca gempa perlu juga memenuhi kenyamanan psikis dan fisik bagi penghuninya.Kenyamanan tersebut harus dipenuhi sejalan dengan tuntutan struktur dan konstruksi tahan gempa sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengghuni. Indonesia sudah bisa untuk cukup berbangga dikarenakan kenyataan menyatakan 1500 lebih rumah pertama yang dibangun dalam mengatasi bencana di Aceh dan Nias merupakan hasil upaya dan konsep anak bangsa sendiri.

Minggu, Maret 09, 2008

Ritual "med-medan"

"Sedot terus Bli.."
Emang kalo tinggal di bali kita gak bakalan bisa lepas dari yang namanya ritual dan tradisi. Sehari setelah Nyepi usai, ada lagi ritual cium-ciuman atau med-medan yang dilakukan oleh pemuda pemudi secara massal di jalanan. Ratusan pemuda pemudi ini memenuhi jalanan umum di Denpasar. Sambil membawa air seember, para pemuda pemudi ini kemudian berciuman, dan langsung disiram dengan air seember, byurr , basah semua dah. Sebenarnya ritual seperti ini ada untung-ruginya. Kalo pas lagi hoki dapet pasangan yang cakep ato cantik. Wah berasa manusia paling beruntung di dunia tuh, tapi kalo sebaliknya,,ya anggap aja belum beruntung ya. Pesan saya bagi yang belum beruntung, perbanyaklah beramal dan berbuat baik, supaya lain kali saudara lebih beruntung ..he he he. (Foto diambil dari http://www.viewimages.com/Search.aspx?mid=73640328&epmid=3&partner=Google ).

Sabtu, Maret 08, 2008

Peringatan Hari Perempuan Internasional di Semarang


Peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2008 di Semarang dilakukan oleh sekitar 15 orang anggota Jaringan Peduli Perempuan dan Anak Jawa Tengah (JPPA-Jateng) dipimpin sdri Nini Jumoinita. Aksi ini tepatnya dilakukan di gerbang Universitas Dipenogoro-Pleburan Jl. Pahlawan Semarang Dipenogoro-Pleburan Jl. Pahlawan Semarang.
Fokus utama dalam aksi ini ialah menuntut perhatian dalam kesehatan reproduksi perempuan Indonesia. Aksi dilakukan dengan orasi di dalam jala dengan beberapa kupu-kupu kertas di dalamnya. Diatas jala terdapat tulisan-tulisan seperti Budaya, Patriarki, Tabu, Minim Informasi, Negara Acuh, Anggaran Kecil, Tidak Ada Pendidikan Kespro, Tidak Ada Regulasi, dan Biaya Kesehatan Mahal.

Fakta-fakta kesehatan reproduksi perempuan antara lain AKI (Angka Kematian Ibu) yang mencapai 307 per 100.000 (data Sensus Demokrasi dan Kesehatan Indonesia). Padahal kebijakan Indonesia Sehat Tahun 2010 menargetkan AKI 125 per 100.000 kelahiran sehingga hal ini tergolong sangat tinggi, aborsi yang tidak aman, kanker payudara dan rahim, infeksi pada saluran reproduksi, PMS termasuk HIV/AIDS dan buruknya gizi perempuan.

Kondisi kesehatan reproduksi perempuan Indonesia masih dalam kungkungan dikarenakan ketabuan, budaya, terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan baik secara kuantitas dan kualitas, lemahnya penyampaian informasi tentang hak reproduksi, perhatian pemerintah yang kurang (audit Maternal Prenatal yang tidak dilakukan dengan baik), hukum yang cacat dan minimnya anggaran kesehatan yang hanya dialokasikan 2 % di APBN yang pastinya porsi untuk kesehatan reproduksi perempuan lebih kecil lagi.

Oleh karena itu JPPA Jateng menuntut pemerintah untuk memberikan perhatian dan memenuhi kebutuhan kesehatan produksi perempuan dengan memasukkan kebijakan perlindungan kesehatan reproduksi perempuan melalui RUU Kesehatan yang sedang dibahas sebagai revisi UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Turut hadir dalam AUR tersebut adalah anggota jaringan JPPA yaitu LRC KJHAM, LBH APIK, KPI kota Semarang, SETARA, dan Perisai. Direncanakan beberapa LSM bidang Perempuan lain dan organisasi mahasiswa turut menggelar aksi serupa namun tidak dilakukan karena telah memberikan pers release. Inti pers release tersebut menuntut perbaikan pada UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan khususnya masalah kesehatan perempuan.

Jumat, Maret 07, 2008

Hari Perempuan dan Hari Ibu

Tahukah anda sejarah Hari Perempuan Internasional? Kemudian tahukah anda kita juga mempunyai Hari Ibu.

Selama ini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, surprise party bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Ternyata apa yang dilakukan selama ini adalah meniru perayaan Mother’s Day di negara barat. Mother;s Day diperingati karena kebiasaan orang Yunani kuno memuja Dewi Rhei, ibu dari segala dewa-dewa, dan dirayakan pada bulan Maret. Negara Amerika sendiri memperingati Mother’s Day sebagai bentuk penghargaan kepada aktivis Julia Ward Howe yang mencanangkan pentingnya peran perempuan dalam melawan perang saudara.

Di Indonesia, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu yang dirayakan secara nasional untuk memperingati pelaksanaan Kongres Wanita pertama yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Berarti selama ini kita juga ikut salah kaprah memperingati Hari Ibu. Kita memberikan selamat atas keberadaan mereka menjadi seorang ibu. Atas pengorbanan mereka dalam mengurus keluarga, membesarkan anak-anaknya, dan sebagainya sesuai tugas dan tanggung jawab seorang ibu.

Seharusnya kita mengucapkan selamat kepada perempuan-perempuan yang telah mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita, perempuan yang mau bekerja dan terlibat dalam pembangunan bangsa, perempuan yang mau berkorban dan bekerja tanpa pamrih demi perempuan lainnya dan demi anak-anaknya, perempuan yang tidak menganggap jenis kelamin sebagai penghalang untuk berkarya. (desty)

Ketidakpahaman akan kekayaan bangsa sendiri dapat mengikis kecintaan kita pada bangsa sendiri dan lebih menyukai budaya dari orang lain. Lebih disayangkan lagi apabila perhelatan tanggal 8 Maret itu diperingati daripada 22 Desember karena tujuan-tujuan tertentu. Waspada dengan para penunggang isu dan pahlawan kesiangan...

Selamat berkarya Perempuan Indonesia...

Hari Perempuan Internasional

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Gagasan adanya Hari Perempuan Internasinal pertama kali muncul pada akhir abad, yang mana dalam dunia industri merupakan periode ekspansi dan pergolakan, dimana pertumbuhan penduduk dan ideologi-ideologi radikal sedang mengalami ledakan.

Pada tanggal 8 Maret 1857, para buruh perempuan di pabrik pakaian dan tekstil (disebut ‘buruh garmen’) di New York, Amerika Serikat mengadakan sebuah aksi protes. Mereka menentang kondisi tempat kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah. Polisi menyerang para pemrotes dan membubarkan mereka. Dua tahun kemudian, juga di bulan Maret, untuk pertama kalinya para perempuan ini mendirikan serikat buruh sebagai upaya melindungi diri mereka serta memperjuangkan beberapa hak dasar di tempat kerja.

Tanggal 8 Maret 1908, sebanyak 15 ribu perempuan turun ke jalan sepanjang kota New York menuntut diberlakukannya jam kerja yang lebih pendek, menuntut hak memilih dalam pemilu dan menghentikan adanya pekerja di bawah umur. Mereka menyerukan slogan “Roti dan Bunga”, roti adalah sebagai simbol jaminan ekonomi dan bunga melambangkan kesejahteraan hidup. Pada bulan Mei, Partai Sosialialis Amerika mencanangkan hari Minggu terakhir di bulan Februari untuk memperingati Hari Perempuan Nasional.
Menyusul deklarasi Partai Sosialis Amerika tersebut, Hari Perempuan Nasional untuk pertama kalinya diperingati di Amerika Serikat pada tanggal 28 Februari 1909. Selanjutnya pada tahun 1913, para perempuan merayakannya pada hari Minggu terakhir bulan tersebut.

Sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan oleh organisasi-organisasi sosialis dari seluruh penjuru dunia, berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada tahun 1910. Konferensi Kaum Sosialis Internasional tersebut mengusulkan agar Hari Perempuan menjadi berwatak internasional. Usulan ini pertama kali terlontar dari Clara Zetkin, seorang perempuan Sosilias Jerman, yang mengusulkan Hari Internasional untuk memperingati terjadinya pemogokan para buruh garmen di Amerika Serikat. Usulan tersebut disepakati secara aklamasi oleh lebih dari 100 perempuan dari 17 negara peserta konferensi, termasuk diantaranya oleh tiga perempuan yang untuk pertama kalinya dipilih sebagai anggota parlemen Finlandia. Hari Perempuan Internasional tersebut ditetapkan untuk menghormati gerakan menuntut hak-hak untuk kaum perempuan, termasuk di dalamnya hak untuk memilih (dikenal dengan ‘hak pilih’). Pada saat itu belum ada tanggal pasti yang ditetapkan untuk peringatan tersebut.

Deklarasi kaum Sosialis Internasioanal mendatangkan pengaruh yang besar. Pada tahun berikutnya, tahun 1911, untuk pertama kalinya hari Perempuan Internasional dirayakan di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Tanggalnya 19 Maret dan lebih dari satu juta laki-laki dan perempuan tumpah ruah memenuhi jalanan dalam sebuah aksi rally. Di samping menuntut hak memilih dan bekerja di kantor-kantor publik, mereka juga menuntut hak-hak kerja dan menghentikan diskriminasi dalam pekerjaan.

Tidak sampai seminggu berikutnya, yakni pada tanggal 25 Maret, terjadilah Tragedi Kebakaran Triangle di New York. Lebih dari 140 buruh, kebanyakan adalah gadis-gadis Italia dan para buruh imigran Yahudi di perusahaan Triangle Shirtwaist, tewas lantaran rendahnya jaminan keamanan. Liga Serikat Buruh Perempuan dan Serikat Buruh Garmen Perempuan Internasional melakukan berbagai aksi protes menentang terjadinya tragedi yang sebenarnya dapat dihindari itu. Mereka juga melakukan pawai pada upacara pemakaman yang melibatkan lebih dari 100 ribu orang. Kebakaran Triangle tersebut berdampak sangat besar terhadap Undang-Undang perburuhan dan terhadap kondisi kerja yang buruk yang menyebabkan terjadinya bencana yang diperingati pada perayaan Hari Perempuan Internasional tahun-tahun berikutnya.

Sebagai bagian dari gerakan perdamaian muncul pada malam Perang Dunia I, para perempuan Rusia mengadakan peringatan hari Perempuan Internasional yang pertama pada hari Minggu terakhir di bulan Februari tahun 1913. Di tempat lain di Eropa, tanggal 8 Maret di tahun berikutnya, perempuan menyelenggarakan aksi rally untuk memprotes perang dan menyatakan solidaritas dengan saudara-saudara mereka lainnya.

disunting dari: SekitarKita.Com

Selamat Merayakan Nyepi & Tahun Baru Saka 1930

Wapres Ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi

Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi kepada umat Hindu di Seluruh Indonesia yang akan merayakan pada hari Jumat (7/3) besok.

"Kita mengucapkan selamat Merayakan Hari Nyepi buat penganut agama Hindu," kata Jusuf Kalla setelah menerima Pangeran Andrew dan rombongan di Kantor Wakil Presiden Kamis (6/3).

Menurut Wapres, Hari Raya Nyepi bagi penganut agama Hindu, merupakan waktunya untuk berdoa.

"Saya berharap semua sehat dan selamat di Hari Nyepi besok," kata Wapres.

Kemajemukan Indonesia harus tetap diingat. Kita memang dilahirkan berbeda-beda. Mempunyai pemikiran yang berbeda. Tapi kita, rakyat Indonesia, masih meminum air dari sumber yang sama, menginjak tanah yang sama, menghirup udara yang sama. Jika ada air yang yang hitam, tanah yang bergoncang, udara yang menyesakkan, niscaya kita semua merasakan tanpa ada pemilihan kulit, gender, suku, golongan, dan agama.

Seluruh penulis dan kontributor blog Putra Rakyat mengucapkan

Selamat Merayakan Nyepi & Tahun Baru Saka 1930

Jum'atan Pas Nyepi di Bali

Singkat aja ya cerita dari saya buat ngana-ngana di seberang pulau sana.

Jadi begini ceritanya. Mungkin gak pernah terbayangkan bagi saya untuk solat jum'at bukan di tempat biasanya. Tapi kali ini terasa lebih lucu, aneh,sekaligus mengagetkan. Betapa tidak aneh,lucu dan mengagetkan kita yang kebetulan lagi magang di denpasar , solat jum'at minggu ini ternyata bertepatan dengan hari raya nyepi umat hindu di bali. Lucunya lagi karena masjid yang biasa kita pakai solat jum'at di renon ternyata ditutup, karena sudah terlanjur niat solat jum'at, ya kita tetep usaha nyari tempat solat. Nggak jauh dari masjid, ane ngeliat orang-orang ngegrombol pada pake sarung tapi bukannya ngmpul di masjid malah pada ngumpul di depan restoran madiun ya. Nah, bisar gak tambah penasaran saya deketin aja tuh, orang-orang yang pada ngumpul. Begitu nyampe depan restoran, ternyata restorannya disulap menjadi tempat solat jum'at, alhamdulillah ,biarpun restoran yang penting masih bisalah dipakai buat solat jum'at he he.

Jumat, Februari 29, 2008

Unjuk Rasa Gabungan KAMMI, HMI, Rohani Islam, dan Puskomda di Semarang

SEMARANG (29/2/2008) berlangsung aksi unjuk rasa gabungan mahasiswa dari KAMMI, HMI, Rohani Islam, dan Puskomda di Kantor RRI Jateng Jl. Ahmad Yani No. 144-146 Semarang.

Muhit H. selaku koordinator aksi menyatakan bahwasanya umat Islam harus bersatu-padu untuk membela Nabi Muhammad SAW. Bahkan kalau perlu pemerintah RI memutus hubungan diplomatik dengan pemerintah Denmark. Hal ini dikarenakan Koran Jyllands-Posten yang menerbitkan kartun-kartun Nabi Muhammad SAW yang digambarkan sebagai orang bersorban dan di sorbannya terselip bom merupakan bentuk penghinaan media massa terkemuka di Denmark tersebut terhadap Nabi junjungan umat Muslim, Nabi Muhammad SAW.