Selama ini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, surprise party bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Ternyata apa yang dilakukan selama ini adalah meniru perayaan Mother’s Day di negara barat. Mother;s Day diperingati karena kebiasaan orang Yunani kuno memuja Dewi Rhei, ibu dari segala dewa-dewa, dan dirayakan pada bulan Maret. Negara Amerika sendiri memperingati Mother’s Day sebagai bentuk penghargaan kepada aktivis Julia Ward Howe yang mencanangkan pentingnya peran perempuan dalam melawan perang saudara.
Di Indonesia, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu yang dirayakan secara nasional untuk memperingati pelaksanaan Kongres Wanita pertama yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22 Desember 1928. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.Berarti selama ini kita juga ikut salah kaprah memperingati Hari Ibu. Kita memberikan selamat atas keberadaan mereka menjadi seorang ibu. Atas pengorbanan mereka dalam mengurus keluarga, membesarkan anak-anaknya, dan sebagainya sesuai tugas dan tanggung jawab seorang ibu.Seharusnya kita mengucapkan selamat kepada perempuan-perempuan yang telah mengangkat harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita, perempuan yang mau bekerja dan terlibat dalam pembangunan bangsa, perempuan yang mau berkorban dan bekerja tanpa pamrih demi perempuan lainnya dan demi anak-anaknya, perempuan yang tidak menganggap jenis kelamin sebagai penghalang untuk berkarya. (desty)
Ketidakpahaman akan kekayaan bangsa sendiri dapat mengikis kecintaan kita pada bangsa sendiri dan lebih menyukai budaya dari orang lain. Lebih disayangkan lagi apabila perhelatan tanggal 8 Maret itu diperingati daripada 22 Desember karena tujuan-tujuan tertentu. Waspada dengan para penunggang isu dan pahlawan kesiangan...
Selamat berkarya Perempuan Indonesia...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar