Jumat, Mei 02, 2008

Hardiknas Semarang: Malah dapat Merah

Semarang-Menyambut Hardiknas, elemen mahasiswa di Semarang memberikan Rapor Merah kepada pendidikan nasional. Salah urus anggaran pendidikan dituduh sebagai biang kerok.

Poster bertuliskan “Realokasi 20% Anggaran” diusung oleh sekitar 40 orang mahasiswa dari BEM UNDIP pagi tadi (02/05/08) di Bundaran Air Mancur Semarang. Koordinator lapangan, Apung Widadi, membacakan tuntutan BEM yaitu realisasi pendidikan murah dan berkualitas, pemerataan akses pendidikan, dan penghapusan UAN, termasuk Realokasi 20% anggaran. Dalam kesempatan itu pula, ia kemudian memberikan “rapor” kepada pendidikan nasional.

Isi rapor itu memberikan nilai merah kepada hampir seluruh aspek. Sistem pendidikan dan Infrastruktur pendidikan menurut mereka adalah yang paling buruk dan patut diberikan nilai E. D untuk Standar dan Akreditasi Pendidikan dan cukup nilai C untuk Tenaga Pendidik.

Mahasiswa menyoroti salah urus anggaran pendidikan sebagai penyebab hal itu. Pasal 31 ayat (4) UUD Negara RI Tahun 1945 menyebutkan dengan jelas alokasi 20% untuk dana pendidikan. Namun keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang memasukkan nilai 20% termasuk gaji para pendidik malah membebani. Hal itu terlihat dalam rincian: biaya kesejahteraan tenaga pendidik (80,47%); pengadaan sarana pendidikan (7,46%); biaya pembinaan profesional (4,32%); biaya pengelolaan lembaga pendidikan (3,91%); pengadaan alat-alat pelajaran (2,55%); biaya pemeliharaan pendidikan (1,05%); dan pembinaan peserta didik (0,24%).

Pola pendidikan menggunakan Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan disebut tidak sejalan dengan visi pendidikan Indonesia yang ingin mewujudkan pemerataan pendidikan dikarenakan adanya penambahan mata pelajaran pada UN hanya akan menambah beban biaya negara. Penyelenggaraan UN dikhawatirkan hanya sebuah proyek besar untuk turut menghabiskan anggaran pendidikan.

Tuntutan serupa dan senada juga datang dari elemen unjuk rasa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Semarang Raya dan LMND yang turut bergabung tidak lama kemudian. Selain itu mereka juga sama-sama merasakan mahalnya biaya pendidikan saat ini.

Tidak ada komentar: