Senin, April 21, 2008

Memanfaatkan "Kartini"

Habis Gelap Terbitlah Terang, kata Kartini. Itu pula yang terjadi di Semarang pagi tadi. Setelah hujan mengguyur kota Semarang, tiga aksi dalam momen Kartini dimulai hampir bersamaan di Bundaran Air Mancur Semarang pukul 9.30 WIB.

Momen peringatan Hari Kartini hari ini dimanfaatkan benar oleh kelompok-kelompok masyarakat di Semarang. Tercatat ada empat aksi yang dilakukan yang tiga diantaranya bersamaan waktu dan tempat sehingga aparat kepolisian dan juga wartawan peliput kewalahan. Peserta aksi pun seperti berebutan tempat.

Aksi pertama dilakukan oleh 20 mahasiswi yang tergabung dalam (Aliansi Peduli Wanita) yang merupakan gabungan dari BEM KM Undip, Biro Kewanitaan INSANI Undip, Jaringan Muslimah Daerah dan Forum Lingkar Kebijakan Publik Undip dengan pimpinan aksi Dini. Tema yang di usung adalah Emansipasi Wanita Kartini Indonesia Masa Kini.
Saat aksi dari APW berlangsung, sebenarnya telah ada massa dari AMPUH - Aliansi Masyarakat untuk Penegakan Hukum – bersiap di belakang barisan APW. Setelah lengkap dengan sebuah mobil boks yang mengangkut sound system, AMPUH meneriakkan “Tangkap dan adili Sukawi Sutarip”. Walau tema yang di usung Penegakan Hukum untuk Penegak Hukum, koordinator lapangan (korlap) Rahmulyo Adiwibowo, SH. MH. mengaku juga memanfaatkan momentum hari Kartini.

Tidak lama kemudian, dari arah simpang lima juga menuju Bundaran Air Mancur Semarang, puluhan orang wanita dibantu pelakon pria sebagai SBY dan JK datang. Rombongan ini adalah anggota dari Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah. JPPA pimpinan Ninik Jumownita mengajak Wanita harus melawan budaya domestifikasi dan mendesain perempuan dalam kondisi lemah dan tak berdaya melalui perangkat - perangkat struktur, budaya dan pemerintahan.

Ketiga kelompok di atas sempat mengambil waktu untuk menyampaikan pandangan dan tuntutannya di Bundaran Air Mancur secara bersamaan. Tumpah ruahnya massa memenuhi badan jalan. Dari sekitar 3 lajur, kendaraan bermotor hanya disisakan 1 lajur. Itu pun harus di atur dari pihak kepolisian. Hasilnya sempat ada kemacetan sepanjang jalan dari Simpang Lima hingga Bundaran Air Mancur.

Wartawan sempat kewalahan juga dalam meliput aksi ini hingga lensa kamera salah seorang wartawan terjatuh. Memang pemanfaatan momentum seperti ini akan dinilai tepat untuk menyampaikan atau menunjukkan aspirasi dan maksud tertentu. Namun, setidaknya pemanfaatan seperti itu harusnya tidak melakukan sesuatu yang merugikan rakyat. Rakyat pun harus pintar membedakan. Apalagi saat ini memasuki bulan Mei dimana momentum layaknya hari Kartini bahkan lebih besar untuk menggerakkan massa itu banyak.

Tidak ada komentar: