Masalah pupuk untuk tanaman pangan adalah masalah nasional karena menyangkut masalah ketahanan pangan Indonesia. Jawa tengah adalah salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional namun pupuk bersubsidi dilaporkan langka di enam kabupaten di Jawa Tengah seperti Sragen, Pemalang, Blora, Pati, dan Rembang. Hal ini dikeluhkan para petani yang tengah memulai masa tanam di awal tahun. Kelangkaan pupuk tersebut menyebabkan peningkatan harga-harga pupuk bersubsidi yang sampai ke tangan petani di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Kenaikan harga berkisar Rp. 1.600 s.d. Rp. 2500 per Kg. Padahal daerah ini mengalami baru saja mengalami bencana banjir yang menyebabkan gagal panen.
Ternyata sekarang banyak orang yang senang by-pass. Langsung makan pupuknya, tidak usah menunggu padi hingga menjadi nasi.
Bagaimana di daerah anda?

3 komentar:
eh, tapi mau nanya dulu nieh. sebenarnya kita ini negara agraris apa negara maritim sih? kok dua-duanya nggak ada yang menonjol.
he.he.
tapi kalo pikiran ane sih kita serakah aja, ya maritim ya agraris he2.kenapa gak?
kalo boy_zone kurang mendengar "greget" rakyat kita akan kekayaan tanah dan laut mungkin betul, tapi tahukah kalo mutiara hasil rakyat maluku terutama mutiara hitam lebih disukai daripada mutiara dari negara lain di pasaran dunia hingga dijuluki The Queen of Pearls.
Saya jadi teringat lagu dari rekan sesama rakyat, Bimbo, yang berbunyi
bukan lautan tapi kolam susu...
...tongkat batu pun jadi tanaman
bener lho. waktu kecil, pernah iseng2 memasukkan kacang ke dalam tanah dan pernah juga menanam bibit jati. tanpa dirawat dan diduga semuanya tumbuh.
tapi kembali lagi lagi boy_zone betul rakyat kita belum maksimal menerima hasil dari sumber daya yang patut kita syukuri dan banggakan sebagai pemilik sahnya.
jangan mau orang lain yang menangguk untung dari anugrah tuhan itu. jangan hanya berdiam melihat kondisi rakyat. Mulailah dari diri kita sendiri...
yang jelas sih, tidak ada kata kita miskin di negeri sendiri, tapi orang lain yang kaya di negeri kita. kan kita yang mengundang mereka ke "rumah" kita. alasannya sih, banyak yang berkunjung, makin banyak rejekinya.
mereka menanam modal, kita kebagian mengurangi pengangguran. begitu kan konsepnya selama ini. yang penting tidak ada yang menganggur di negara kita. coba konsepnya diubah menjadi membuka lapangan pekerjaan, kan itu berarti yang membuka adalah pemerintah/orang-orang dari negeri sendiri.
tapi susah juga ya, karena kita memang belum mampu (alasan klasik). he.he.
Posting Komentar